Jumat, 15 Agustus 2014

Dana Pendidikan Anak, Siapkanlah Secara Bijak


Tabungan Anak
Tabungan Anak
Orang tua mana yang tidak ingin anaknya kelak menjadi orang yang sukses, bisa mandiri didalam hidupnya, berprofesi sesuai cita – cita anaknya tersebut. Sebagai orang tua tentu kita ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak kita. Karena kelak dikemudian hari  pendidikan inilah yang menjadi bekal dan modal bagi anak untuk tercapainya tujuan diatas. Semua usaha persiapan termasuk Tabungan Anak untuk dana pendidikan dilakukan orang tua agar dapat memasukkan anak di sekolah-sekolah terbaik. 


Karena lonjakan biaya pendidikan di Indonesia yang selalu terus naik melebihi inflasi tentu mengharuskan orang tua berhitung secara cermat dan bersikap bijak dalam memilih tabungan anak atau produk-produk keuangan. Lihatlah beberapa sekolah ternama, menentukan kenaikan biaya pendidikan antara 10% hingga 20% per tahun. Bandingkan, berapa tinggi kenaikan pendapatan orang tua tiap tahunnya? 


Nah, jika Anda ingin aman, silakan investasikan dana pendidikan anak pada produk dengan imbal hasil minimal setara dengan nilai inflasi, syukur-syukur bisa lebih tinggi sesuai kenaikan biaya pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi yang ingin dituju. Jika sampai salah menentukan instrumen investasi, bisa-bisa target dana yang dicapai masih sangat jauh dari kebutuhan biaya pendidikan. Jika ini yang terjadi, Anda sebagai orang tua harus membujuk si buah hati yang telah remaja kelak untuk memilih sekolah atau perguruan tinggi sesuai dengan dana yang tersedia. Sayang bukan? 



Tabungan Pendidikan Xtra CIMB Niaga
Sekarang, hampir semua bank memiliki produk Tabungan Anak atau tabungan pendidikan anak baik berjangka maupun reguler. Nah, baru-baru ini Bank CIMB Niaga meluncurkan produk Tabungan Pendidikan Xtra. Iklan mencolok pun tampil di papan reklame "Nabung Rp 5 juta, dapat jaminan dana pendidikan total hingga Rp 7,9 miliar." Inilah strategi pemasaran bank yang sekilas menggiurkan bagi calon nasabah. 


Anda, tentu, perlu mencerna dan memahami terlebih dahulu bahasa iklan seperti ini. Sebab, biasanya di bawahnya diberi catatan syarat dan ketentuan. Dalam kondisi normal, dana yang terkumpul Rp 1,9 miliar.



Menurut Sukiwan, Vice President Consumer Liabilities Business Group Head CIMB Niaga, latar belakang peluncuran produk Tabungan Pendidikan Xtra adalah karena tingkat risiko yang dihadapi oleh nasabah semakin besar dari tahun lepas tahun. Dalam kondisi seperti ini, jika nasabah penyetor meninggal dunia, pendidikan anaknya bisa terancam. "Kalau hanya memberikan perlindungan tabungan pendidikan anak, tidak maksimal hasilnya," ujar Sukiwan. 



Nah, lewat produk ini, ahli waris nasabah akan mendapatkan dua manfaat perlindungan. Pertama, jaminan perlindungan terhadap dana pendidikan. Jika nasabah meninggal atau cacat tetap, skema atau rencana tabungan akan diteruskan pihak asuransi. 



Kedua, nasabah juga mendapatkan jaminan pertanggungan pengganti biaya hidup sebesar 5 kali dari nilai setoran rutin. Misalnya nasabah menyetor Rp 5 juta per bulan, maka pertanggungan biaya hidup untuk ahli waris adalah Rp 25 juta per bulan yang akan ditransfer ke rekening ahli waris atau keluarga yang ditunjuk. "Inilah perlindungan yang membuat produk ini lebih spesial dibandingkan tabungan pendidikan anak pada umumnya." jelas Sukiwan. 



Dalam memberikan manfaat asuransi, CIMB Niaga menggandeng perusahaan asuransi Sun Life dan bergabung menjadi PT CIMB Sun Life. Setiap nasabah yang hendak membuka produk ini akan diminta melakukan cek kesehatan terlebih dahulu. Nasabah juga tak perlu khawatir tentang biaya premi asuransi. "Murni gratis dari bank dan nasabah sudah bisa mendapatkan perlindungan sejak bulan pertama menabung," imbuh Sukiwan. 



CIMB Niaga menetapkan jaminan pertanggungan lima kali nilai setoran berdasarkan rumus 20% pendapatan. Pertimbangannya adalah saat menabung seseorang diharapkan bisa menyisihkan 20% dari penghasilannya. Dengan demikian, jika terjadi musibah terhadap nasabah, keluarga bisa mendapatkan total pertanggungan (100%). 



Tapenas BNI
Lain lagi dengan BNI yang memiliki Tabungan Perencanaan Masa Depan (Tapenas) BNI. Tabungan berjangka ini bisa dimanfaatkan nasabah sesuai kebutuhan masing-masing, tidak harus khusus untuk tabungan pendidikan anak. Menurut Purnomo B.Soetadi, EVP Customer Management and Marketing Bank BNI, pihaknya tidak langsung menawarkan untuk memakai produk Tapenas. "Nasabah harus tahu terlebih dahulu, apa tujuan keuangannya, jangka waktu yang dimiliki berapa lama, dan bagaimana profil resiko nasabah," ujar Purnomo. 


Jika profil nasabah adalah konservatif, akan dipilihkan produk deposito atau Tapenas. Namun, jika profil nasabah moderat atau agresif, BNI akan menawarkan beberapa alternatif produk seperti reksadana, ORI, Sukuk, dan lain-lain. Produk Tapenas BNI menurut Purnomo cocok untuk nasabah dengan profil risiko konservatif, tidak memiliki dana tunai besar, namun mampu mengangsur secara rutin. 



Ini berbeda dengan deposito yang memerlukan setoran awal cukup besar. "Tidak setiap nasabah mampu menaruh dana yang besar." imbuh Purnomo. Oleh karena itu, produk Tapenas ini adalah solusi bagi nasabah yang tidak punya dana langsung besar, tetapi punya dana untuk mengangsur secara rutin dan juga membantu nasabah disiplin menabung. 



Tapenas BNI bisa disetor rutin dengan nominal yang sangat terjangkau, yakni kelipatan Rp 50.000 dan maksimal Rp 5 juta. Tapenas juga sudah digabung dengan asuransi jiwa yang berlaku sejak bulan pertama menjadi nasabah. "Tidak perlu tes kesehatan, jika terjadi sesuatu pada nasabah, ada jaminan, sehingga tidak menganggu rencana dana pendidikannya," jelas Purnomo. 



Asuransi jiwa bawaan Tapenas ini gratis bagi nasabah. Namun bila nasabah ingin menambahkan asuransi jenis lain akan dikenakan biaya premi. 



Dalam merencanakan keuangan, Purnomo menyarankan hendaknya nasabah juga mempertimbangkan kemampuan finansial. Taruh kata, dalam waktu 20 tahun anak ingin kuliah di universitas tertentu. BNI akan memberi saran sesuai kemampuan keuangan nasabah yang bersangkutan dan menujukkan sebenarnya berapa dana yang terjangkau untuk dikumpulkan sebagai biaya pendidikan anak. 



Anggap saja seseorang membutuhkan dana Rp 100 juta, namun setelah dihitung hasil Tapenas hanya Rp 70 juta. "Kami menyarankan agar nasabah tidak ngotot menambah nominal setoran, tetapi bisa mencari alternatif sekolah atau perguruan tinggi lain yang lebih terjangkau," ujar Purnomo. 



Sejauh ini, menurut Purnomo, nasabah yang membuka rekening Tapenas memilih tenor waktu 10 tahun. Ia pun mendapati fenomena menarik dari para nasabah Tapenas BNI. "Dalam rentang waktu sekian tahun, pola ekonomi nasabah bisa berubah, pendapatan naik, dan semacamnya, sehingga penggunaan Tapenas tidak harus untuk dana pendidikan," jelas Purnomo. 



Pandangan financial planner
Menurut Lisa Soemarto, perencana keuangan dari AFC, Tabungan Pendidikan Xtra merupakan gabungan antara investasi dan asuransi, sehingga tidak bisa jika dibandingkan dengan reksadana sebagai produk murni investasi. Tabungan pendidikan ini menawarkan suku bunga antara 3,75% hingga 5% per tahun sesuai tenor waktu setoran. Setoran paling singkat tiga tahun akan mendapat bunga 3,75% dan setoran terlama adalah 20 tahun akan mendapat bunga 5% per tahun. 


Bunga berlaku tetap selama lima tahun, dan akan dikaji setiap lima tahun. Nah, dari gambaran bunga yang diberikan ini, tampak bahwa produk ini cocok bagi Anda yang konservatif. Namun bagi Anda yang tergolong moderat atau agresif, tentu bunga maksimal 5% per tahun ini jauh tertinggal dibanding produk-produk investasi lainnya. 



Mencermati bunga yang diberikan paling tinggi 5%, artinya masih tertinggal dibanding kenaikan biaya pendidikan yang berkisar 10% hingga 20% per tahun. "Hasilnya tidak maksimal," ujar Lisa. Sedangkan benefit asuransi yang diberikan, menurut Lisa, juga bisa dibeli secara terpisah. 



Sekadar gambaran, Eko Endarto, perencana keuangan dari Financia Consulting, memberikan perbandingan dengan reksadana saham yang bisa memberikan imbal hasil antara 15% hingga 20% per tahun. "Jika dana ditempatkan pada reksadana saham dengan hasil 15%, setoran bulanan yang harus dibayarkan selama 20 tahun adalah Rp 1,3 juta. Bila hasil reksadana saham 20% per tahun, Anda hanya setor Rp 610.000 per bulan," papar Eko. 



Sebenarnya, masih menurut Eko, produk tabungan pendidikan cocok untuk keperluan jangka pendek. Meski begitu, menilik bunga tabungan pendidikan yang hanya 3,75% hingga 4% untuk jangka waktu hingga 3 tahun, hasilnya masih terbilang sangat kurang dibandingkan dengan ORI yang memberi imbal hasil 6% per tahun atau saving bonds yang minimal memberi imbal hasil 8,75%. 



Meski demikian Eko berpendapat bahwa tabungan pendidikan tetap memiliki keunggulan dibanding tabungan reguler. "Ada hasil yang bisa dikatakan pasti, dan perlindungan yang biasanya tidak ada di produk tabungan biasa. Selain itu juga keharusan nasabah diikat menjadi kelebihan tabungan ini yang menjadikan nasabah disiplin dengan tujuan keuangannya," jelas Eko. 



Masuk dalam penjaminan LPS 


Sebagai produk bank, tabungan pendidikan anak, menurut perencana keuangan Diana Sandjaja, juga memiliki beberapa daya tarik. Pertama, tabungan pendidikan mendapat penjaminan LPS jika terjadi likuidasi pada bank. "Risiko kehilangan dana menjadi lebih kecil karena ada LPS yang menjamin," ujar Diana. 



Kedua, target dana yang dicapai menjadi lebih pasti karena ada kontrak yang mengikat besaran angka pemberian bunga. Ketiga, ada bundel dengan produk proteksi alias asuransi juga menarik. 



Terlebih lagi, Tabungan Pendidikan Xtra juga memberikan uang pertanggungan sebesar lima kali penghasilan nasabah, selain setoran bulanan akan dilanjutkan oleh perusahaan asuransi. "Jadi setoran tetap dilakukan dan dilanjutkan sesuai tenor waktu, meski orang tua sudah tiada," imbuh Diana.



Sayangnya, produk tabungan pendidikan memberikan bunga yang sangat kecil dibandingkan nilai inflasi biaya pendidikan yang bisa mencapai 10% hingga 20%. "Dikhawatirkan jumlah dana tidak cukup untuk membiayai pendidikan anak ketika jatuh tempo," ujar Diana mengingatkan. Salah satu solusi mengimbangi inflasi biaya pendidikan adalah orangtua harus menabung dalam jumlah lebih besar. 



Diana menganjurkan tenor tabungan pendidikan tidak lebih dari 3 tahun. "Kalau tenor di atas 3 tahun sayang kalau pilih yang konvensional tabungan, lebih baik memilih yang agresif," imbuh Diana. Sekadar contoh, jika hanya memiliki rentang waktu dua tahun Diana sangat tidak menyarankan menaruh di reksadana, tetapi lebih baik ke tabungan pendidikan yang umumnya juga lebih menarik ketimbang tabungan reguler. 



Menurut Ruben Sukatendel, perencana keuangan dari Fokus Finansial, tabungan pendidikan cocok bagi Anda yang tidak memilik banyak waktu untuk berurusan dengan bank. "Daripada tidak pernah menyiapkan dana pendidikan, tabungan pendidikan anak merupakan alternatif yang membuat orang menjadi disiplin. Terkait dengan besarnya bunga, Ruben mengingatkan bahwa suku bunga yang dijamin oleh LPS adalah di bawah suku bunga LPS yang saat ini 7,75% per tahun. 



Kini, Anda, sebagai orang tua yang bijak, silakan mengukur kemampuan finansial dan tujuan pendidikan anak Anda per jenjang serta menentukan produk tabungan pendidikan anak yang sesuai. Agar tidak kelabakan saat dana pendidikan perlu dibayarkan ke sekolah yang dituju, Anda harus berhitung secara cermat sejak usia anak masih dini. Semakin dini Anda menyiapkan Tabungan Anak untuk dana pendidikan, semakin lama rentang waktu yang Anda miliki dan memilih produk terbaik. Dan, tentu saja, semakin besar peluang si kecil meraih cita-cita dan mimpi-mimpinya kelak. Selamat berhitung! Percayalah, jerih payah Anda saat ini akan berbuah manis kelak. 

Sumber : http://personalfinance.kontan.co.id/

0 comments: